Berbaginasi : Merdeka Untuk Menjadi Diri Sendiri

Berbaginasi : Merdeka Untuk Menjadi Diri Sendiri

Salam pejuangnasi.. Kami dalam memperingati kemerdekaan RI yg ke-72 akan mengadakan acara bersama komunitas berbagicinta di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) / Lapas Anak Sukamiskin pada Hari Sabtu tangga 19 Agustus 2017 pada pukul 09.00-13.00 WIB. 

Disini kami membutuhkan:

1. volunteers untuk membantu adik adik dalam mengikuti permainan, mengajarkan rasa nasionalisme dan kasih sayang. Buat yg mau ikutan bisa kontak danang 082115510033 (wa) dan ikut technical meeting (bisa tanya waktu by wa) 

2. Kami membutuhkan donatur untuk konsumsi adik adik di lapas kurang lebih sebanyak 200 orang. Harga makanan nya seharga @Rp. 10.000.

Untuk donasi bisa kontak danang 08211551003. 

  • Dengan Rek. Yayasan Berbagi Satu Nusantara (Mandiri) 132-00-2014111-6. 

Dengan kode rekening +Rp. 72 di setiap donasi nya. Contoh: saya mau nitip untuk 2 porsi nasi, maka yang harus di transfer ke rekening tersebut sebesar Rp. 20.072.

Nb: untuk #berbaginasi di malam hari masih rutin setiap hari SABTU ya, di Parkiran Bank Danamon merdeka sesudah BIP muter jam 21:00.

Gerakan Berbagi 1000 Matras 5 Tahun Berbaginasi

Gerakan Berbagi 1000 Matras 5 Tahun Berbaginasi


Berbagi Satu Nusantara Foundation dan Berbaginasi Nusantara mempersembahkan:
#berbagimatras #1000matras
adalah membagikan alas tidur berupa matras yg diprioritaskan utk Ibu, anak dan jompo yg tidur beralaskan bumi beratapkan langit agar mereka tdk lg tidur beralaskan koran, plastik ataupun kardus utk menghindari resiko mereka hipotermia & bronchitis.
Matras ini dijual seharga Rp.85.000,- (sdh tmsk ongkir ke kota tujuan) 

Contoh: 

1) saya mau donasi #berbagimatras ke Jakarta sebanyak 1 buah, maka donasi yg harus ditransfer Rp. 85.102,-

2) saya mau donasi #berbagimatras ke Bekasi sebanyak 2 buah, maka donasi yg harus ditransfer Rp.170.105,- 
Donasi pembelian #berbagimatras ini melalui a/n Rek. Yayasan Berbagi Satu Nusantara (Mandiri) 132-00-2014111-6
Contact Person: 

Danang 082115510033

Meri +6281315735668

www.Berbaginasi.com
Program #berbagimatras ini diadakan dlm rangka 5 tahun berbaginasi.com November 2017.
Pembagian #berbagimatras #1000matras akan dilakukan serempak di bulan Desember 2017. Donasi dibuka sampai tgl 30 November 2017. 
KODE KOTA:

101 – Bandung @berbaginasiID

102 – Jakarta @berbaginasiJKT

103 – Bogor @berbaginasibogor

104 – Depok @berbaginasiDPK

105 – Bekasi @berbaginasiBKZ 

106 – Batam @berbaginasiBTM

107 – Kudus – 

@berbaginasikudus

108 – Magelang @berbaginasimagelang

109 – Kediri @berbaginasi_kediri

110 – Makasar @berbaginasiMKS

111 – Blitar @berbaginasi_blitar

112 – Singkawang @berbaginasi_skw

113 – Palopo @berbaginasipalopo

114 – Semarang 

115 – Mojokerto @berbaginasimjkt

116 – Serang @berbaginasisrg 

117 – Solo

118 – Garut @berbaginasi_GRT

119 – Tasikmalaya @berbaginasitasikmalaya

120 – Pontianak @Berbaginasi_Ptk

121 – Kendari

122 – Jogja

123 – Malang

124 – TulungAgung @berbaginasi_ta_official

125 – Tanggerang selatan @berbaginasitangsel

126 – Majalengka @berbaginasi_mjlk

127 – Jombang 

128 – Salatiga @berbaginasisltg

129 – Bali

130 – Subang @berbaginasiSBG

131 – Sidoarjo

132 – Cikarang

133 – Pekalongan 

134 – Lampung

135 – Gresik

136 – Ketapang

137 – Majenang

138 – Sumedang @berbaginasi_sumedang

139 – Banyuwangi 

140 – Nganjuk 

141 – Jember

142 – bengkulu

143 – Jambi

144 – Surabaya 

145 – Tegal @berbaginasikotategal

146 – Pesawaran 

147 – Pringsewu -@berbaginasipringsewu 

148 – Binjai

149 – Tolitoli

150- kendal
Info lebih lanjut:

Cek IG/Twitter @berbaginasiID

www.berbaginasi.com

Danang 082115510033

Meri +6281315735668

Proklanasi, Cara Kami Mengenang Proklamasi

Proklanasi, Cara Kami Mengenang Proklamasi

Rabu, 17 Agustus 2016, menjadi momen istimewa bagi siapa pun yang mengaku cinta Indonesia. Tidak terkecuali kami, keluarga besar Bernas Bogor yang pagi itu akan ngider berbagi nasi di titik-titik yang sudah kami sepakati. Kami memang tidak ikut upcara bendera, tapi itu tentu tidak lantas mengurangi kecintaan pada tanah air. Pada kadar tertentu, kami justru tengah berusaha membumikan nilai kemerdekaan yang tertuang dalam naskah Proklamasi.

Mengenang Proklamasi

Ya, inilah cara kami mengenang Proklamasi. Kami tidak merayakan, tetapi mengenangnya. Setiap kata dan kalimat dalam naskah penting itu kami renungkan dalam-dalam dan berusaha menerjemahkannya menjadi kenyataan. Tentu saja sesuai kemampuan kami yang terbatas. Mari simak bunyi naskah Proklamasi berikut ini.

P R O K L A M A S I
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.

Pagi itu kami berusaha mengejawantahkan makna kemerdekaan untuk warga sekitar sebagai sesama bangsa Indonesia. Yaitu kemerdekaan dari rasa lapar atau mengganjal perut mereka untuk sementara waktu. Pernyataan ini mungkin terdengar kelewat bombastis mengingat kami hanya mengangkut 130 amunisi (nasi bungkus) dengan lauk seadanya dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sarapan saja. Namun seperti yang pernah saya tulis di sini dan di sini, sebungkus nasi ternyata sangat penting bagi kehidupan seseorang bahkan dalam menjaga stabilitas sosial.

Jadiuntuk mewujudkan kemerdekaan dari rasa lapar itu, kami pun memindahkan seratus sekian amunisi yang ada dalam kekuasaan kami. Nasi bungkus itu memang bukan berasal dari satu orang saja, melainkan hasil kolaborasi banyak orang, baik para pejuang nasi sendiri maupun para donatur yang baik hati. Begitu dana terkumpul, kami pun segera mengeksekusi dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk bisa dibagi kepada mereka yang kami anggap layak menerima.

Cara Sederhana di Puluhan Kota

Dari Kota Hujan inilah kami ikut menyemarakkan ulang tahun Indonesia dengan cara yang sederhana. Acara ini dihelat serentak di berbagai kota seperti terlihat dalam gambar di atas. Ada kota yang menggelar Bernas di malam hari tanggal 16 atau tanggal 17 pagi. Nah, ini kali pertama saya bergabung dengan Bernas Bogor di waktu pagi. Biasanya kami ngider setiap Jumat malam dua kali dalam sebulan.

Kesempatan ini juga menjadi semacam reuni setelah saya beberapa kali absen karena kesibukan dan gangguan kesehatan–terlebih bagi Bumi yang baru saja pulih dari sakit yang lumayan. Baik Rumi maupun Bumi sangat girang bergabung dalam Bernas untuk kali kedua meskipun mereka akhirnya tertahan di depan Mesjid Raya (Mesra) lantaran belum sarapan pagi sehingga tak bisa ikut berkeliling.

Saat tiba di depan Mesra, saya cukup risau lantaran tak melihat seorang pun sobat muda pejuang nasi. Pagi itu Mesra memang dipenuhi jemaah calon haji beserta rombongan pengantar. Jalanan sesak oleh bus dan mobil pribadi. Saya khawatir teman-teman Bernas telah bergerak membagikan nasi sementara saya membawa cukup banyak amunisi (kebanyakan dari titipan donasi) yang tak mungkin saya bagikan sendiri.

Rupanya mereka beringsut ke samping Halte Bus TransPakuan yang berada tepat di depan Hotel Amaris. Komposisi sudah lengkap sesuai daftar presensi di grup WA. Sudah ada Kak Yuni, Jeni, Sandi, Intan, Ken, Rania, Ichwan. Tingggal Indah yang masih berburu amunisi. Tak berapa lama, Indah pun muncul bersama tamu istimewa. Luar biasa, Bernas pagi itu turut dihadiri mamah Indah yang membuat saya jadi lebih muda, haha. Oh ya, satu lagi, Ican, jadilah 10 orang sehingga total 11 personel termasuk saya.

Menyisir Surken dan Merdeka

Kami segera berbagi amunisi dan membagi kelompok yang akan menyisir dua wilayah berbeda. Sebagian meluncur ke Suryakencana (Surken) sedangkan sisanya menyusuri Jembatan Merah hingga Jl. Merdeka, tak jauh dari Stasiun Bogor. Sempat ada miskomunikasi di mana amunisi terbawa cukup banyak di mobil yang harusnya berputar ke Surken. Akhirnya jalanan Surken tidak tuntas kami jelajahi. Walhasil, seluruh tim bergerak ke lokasi kedua dengan melewati Paledang.

Cukup banyak penerima nasi di jalanan ini. Tukang becak dan pemulung mendominasi. Satu per satu nasi bungkus berpindah tangan kepada mereka. Tangan-tangan renta menerimanya dengan senyum apa adanya. Sebagian langsung disantap, ada pula yang disimpan untuk makan siang. Bagi pemulung yang punya keluarga, kami lebihkan sesuai jumlah anggotanya.

Merdeka dari Rasa Lapar

Saya dan Sandi memacu kendaraan hingga sampai di pertigaan Rutan Paledang. Di bawah jembatan penyeberangan, tepatnya di emperan pos jaga polisi, terlihat seorang anak tertidur pulas. Bahkan saat Sandi membangunkan dia, tak tampak dia terganggu oleh kehadiran kami. Setelah membuka mata dan menerima nasi, anak ini segera memejamkan mata kembali. Mungkin semalam begadang. Atau seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, dia memang sudah terbiasa tidur untuk melupakan rasa lapar yang mendera.

Saya abadikan foto anak ini bersama Sandi dan saya pasang sebagai pembuka tulisan ini. Betapa miris, anak sekecil itu harus bergelut dalam kerasnya hidup di jalan. Tidak menentu dan penuh perjuangan. Andaikan dia terjaga, saya hendak mengobrol tentang siapa dia dan kenapa bisa tertidur pulas di situ tanpa perbekalan apa pun. Merah putih harus terus berkibar dengan catatan semua orang Indonesia, terutama anak-anak, harus terbebas dari rasa lapar. Bukankah ironis bila di mana-mana ada pesta dan perayaan enuh makanan sementara di sudut-sudut kota lain ada orang yang menggelepar karena lapar?

Pilihan kami untuk bersatu di Jembatan Merah – Merdeka rupanya sangat produktif. Terbukti 130 bungkus amunisi ludes di area ini. Hingga area PGB (Pusat Grosir Bogor) masih kami temui tukang becak dan pemulung. Karena kapasitasnya yang lapang, mobil yang dikendarai Ken bersama Intan membawa sisa amunisi untuk dibagikan di Jl. Merdeka. Mobil diparkir di depan Toko Buku 88 lalu mereka berjalan kaki menyambangi orang-orang di emperan toko pagi itu.

Habis Ngider, Terbitlah Laper

Sesekali kami yang menunggu di atas motor turut memindahkan amunisi kepada pemulung yang lewat atau tukang becak yang meluncur ke arah stasiun. Amunisi di motor semakin menipis, hanya satu-dua yang tersisa. Hingga semua amunisi tuntas, maka kami bergabung lagi di depan Toko 88 (jadi iklan nih, haha…). Tim sepakat untuk sarapan bersama di Gang Selot yang terkenal dengan aneka jajanan enak itu. Lokasinya tak jauh dari SMP 1 Bogor.

 

Karena saya harus menjemput anak-anak yang sedang makan di depan Mesra, saya pamit untuk absen. Sesampai di Mesra, ternyata istri belum makan. Jadilah kami meluncur ke lokasi kuliner tadi untuk bergabung dengan para pejuang yang sudah standby di sana. Baru kali pertama menyambangi daerah Selot dan memang sangat ramai oleh anak-anak sekolah. Kedai makanan berderet di sepanjang gang itu, menawarkan aneka makanan maupun camilan. Karena sedang puasa, saya cuma bisa membayangkan kelezatan mi hijau yang pagi itu disantap Rumi. Hiks 😦

Setelah tandas, satu per satu mohon diri. Kami sekeluarga pulang belakangan karena datangnya telat. Anak-anak begitu gembira menikmati pengalaman hari itu meskipun tak ikut ngider seperti Bernas malam-malam yang pernah mereka ikuti. Matahari semakin tinggi dan kami segera beranjak pulang. Hari itu sangat memuaskan, so fulfilling, so full of meaning. Begitu menggembirakan.

Tamparan Bagi Kami Berdua    

Namun esok paginya, saat Kanop mengirim kabar duka berikut ini, saya dan istri tak sanggup menahan air mata. Para pejuang nasi Kudus mendapati seorang kakek tua yang sakit dan tergolek tak berdaya di emperan sebuah pertokoan. Tak punya rumah. Tidur di atas ubin dengan alas sederhana, mungkin merana. Rekan Bernas Kudus langsung mengontak SR atau Sedekah Rombongan yang kemudian mengangkut si kakek ke rumah sakit terdekat.

Kejadian itu berlangsung tanggal 16 Agustus malam. Esok harinya, si kakek dikabarkan telah meninggal dunia. Innalillaahi wainna ilai raajiuun. Saya sangat memuji tindakan rekan bernas terutama tim SR yang begitu sigap membantu walaupun Allah menakdirkan hal lain. Semoga orang-orang baik seperti mereka diperbanyak jumlahnya di negeri ini dan dimudahkan hidupnya oleh Tuhan.

IMG-20160818-WA0001.jpg

Pecahlah tangis kami saat mendengar kejadian ini. Betapa kami kerap mengeluh karena belum berhasil mencapai hal ini dan itu. Belum punya barang ini dan itu. Padahal setiap hujan tak pernah kehujanan, pun tak pernah kepanasan. Bisa makan setiap hari, mandi dengan air bersih, punya akses pada fasilitas kesehatan dan pendidikan, banyak teman, dan berbagai nikmat lain yang kami lupakan. Betapa kerdilnya hati kami yang terus dan terus menginginkan kenikmatan padahal ada yang jauh lebih menderita dan butuh uluran tangan?

Tapi ya begitulah. Penyesalan hanya datang saat ada kejadian. Nanti bila tiada lagi pemandangan seperti ini, akan kembalilah kami kepada ego dan semangat impulsif untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri–sebanyak-banyaknya. Semoga tidak, semoga tidak.

Dari Kota-kota untuk Nusantara

Selain apresiasi tinggi kepada SR, penghargaan juga layak kami sampaikan kepada rekan-rekan Bernas kota lain yang bergerak membagikan nasi tanggal 17 Agustus kemarin. Pagi atau malam, semangatnya tak pernah padam. Berdasarkan data yang masuk, berikut adalah jumlah amunisi yang telah dibagikan di seluruh Nusantara.

  1. Magelang 193
  2. Surabaya 171
  3. Kudus 160
  4. Bengkulu 56
  5. Makassar 150
  6. Batam 50
  7. Lampung dan Pringsewu 171
  8. Singkawang 17
  9. Jakarta 160
  10. Bekasi 139
  11. Pontianak 119
  12. Semarang 95
  13. Solo 56
  14. Salatiga 100
  15. Mojokerto 71
  16. Jombang 60
  17. Cikarang 205
  18. Bandung 180
  19. Jogja 106
  20. Tulungagung 168
  21. Tasikmalaya 25
  22. Depok 50
  23. Bogor 130

Total 2.632 bungkus telah didistribusikan di kota-kota yang berpartisipasi. Terima kasih kepada para pejuang nasi wabilkhusus kepada para donatur yang bersedia menitipkan dana kepada kami. Himpunan foto berikut akan memperjelas aktivitas Agustusan beberapa hari lalu. Inilah Proklanasi, cara kami mengingat kembali apa yang ditegaskan dalam naskah Proklamasi. Dirgahayu RI ke-71!

Here is a collection of places you can buy bitcoin online right now.

Berbagi Nasi Bogor Jilid X

Berbagi Nasi Bogor Jilid X

Tanggal 13 November saya gembira sekali bisa kembali berpartisipasi dalam Bernas (Berbagi Nasi) Bogor yang memasuki jilid ke-10 bila tak salah. Jika Jumat malam sebelumnya cuaca Bogor cerah, kali ini sejak sore Bogor disirami hujan yang cukup lebat dan kontinu.

Badan agak meriang, namun ingin ikut bergabung bersama para pejuang nasi. Sejak siang grup WA Bernas Bogor sudah ramai tentang siapa yang bisa dan tak bisa turun ke jalan. Rupanya Jumat itu banyak rekan yang berhalangan, entah karena pekerjaan atau kesibukan lain.

Tak apa, namanya juga kegiatan sukarela, jadi tak ada paksaan atau ikatan apa pun. Dan justru inilah asyiknya, siapa pun bisa bergabung kapan saja saat yang lain berhalangan. Kesuksesan kegiatan bukan ditentukan oleh jumlah personel yang terjun atau amunisi yang dibagikan, melainkan pada intensitas hati yang tersentuh dan terbantu.

The Three Musketeers

Pukul 8 lewat saya sudah tiba di Mesra. Karena belum ada yang datang, saya segera membungkus amunisi satu per satu — menyatukan sebungkus nasi dengan air mineral atau teh tawar. Ada 10 amunisi yang siap dibagikan, termasuk donasi yang disampaikan lewat Novi admin Bernas Bogor.

Tak lama kemudian Renaldi (Ray) muncul. Ray adalah anak SMAKBO yang tengah magang di Jakarta. Keluarganya tinggal di Jakarta sementara dia indekos di Bogor dekat sekolahnya. “Asyik aja Pak, kegiatan begini sambil menambah rezeki.” Begitu jawabnya saat saya kulik mengapa tertarik ikut Bernas padahal di malam dingin itu enaknya bergumul dengan kemul. Salut!

Berdasarkan pantauan di WA, Fuad akan menemani kami malam itu. Dia bertolak dari Depok sehingga kami harus sabar menanti. Saat asyik mengobrol, Novi mengirim pesan bahwa ada donasi masuk lagi. Saya segera meluncur ke Jl. Ciheuleut untuk membeli beberapa amunisi tambahan. Saya tinggalkan Ray untuk menjaga amunisi yang sebelumnya saya bawa.

“Pak, saya balik ke kos ya, cari helm,” ujarnya lewat pesan di WA. Saya masih di warung nasi Padang. Kembali ke halaman Mesra, Ray belum terlihat. Tak lama berselang muncullah Feris dengan membonceng Ray sambil membawa 3 amunisi. Total amunisi malam itu sebanyak 17 bungkus.

Ketiduran dan kemalaman

Hingga pukul 10 malam Fuad belum juga menampakkan diri. Betapa kaget mendengar kabar dari Ray bahwa Fuad ternyata ketiduran. Olala, pantesan lama. Fuad meminta maaf dan minta ditinggal saja. Kami bertiga pun langsung tancap gas ke Jl. Surken. Malam itu sepanjang Jl. Otista hingga Surken sudah sangat ramai. Para penjual sayuran dan buah tumpah ruah ke badan jalan. Walhasil, kami pun bergerak merambat meskipun berkendara motor.

“Ini gara-gara nunggu Fuad nih jadi kejebak penjual!” gumam saya geli hehe. Padahal ketemu Fuad pun belum pernah. Jalanan becek dan basah selepas hujan deras yang mendera. Tak apa kemalaman dengan jumlah amunisi seadanya. Yang penting malam itu ada yang terbantu terisi perutnya. Begitu tekad kami.

Terhibur dengan tertidur

“Maaf, Pak. Saya ganggu tidurnya.” Lelaki paruh baya itu tergeragap dan memandang saya, agak terkejut.

“Ya?” jawabnya singkat.

“Bapak sudah makan?” saya tanya balik.

“Sudah, tadi siang.” Kali ini dia sudah terduduk tak jauh dari kantong plastik besar berisi barang-barang pulungannya.

“Silakan, Pak. Ini ada nasi. Maaf ya ganggu.” Nasi bungkus diterima. Saya menoleh ke sebelah: ada lelaki lain di emperan toko itu. Sebungkus lagi saya serahkan. Saya langsung pamit dan bergabung dengan Ray dan Feris yang sedari tadi mengamati dari seberang jalan. Tanpa menunggu kami beranjak pergi, kedua lelaki tua itu langsung membuka nasi dan menyantapnya. Lapar.

Lamat-lamat ucapan terima kasih masih bergaung dalam memori. Ya Allah, berarti bapak itu berencana tidak makan malam karena makan terakhir adalah makan siang tadi. Betapa beruntung saya yang masih bisa makan tiga kali sehari, atau mungkin lebih, dengan jaminan kemampuan hingga sebulan ke depan. Sementara mereka tak tahu esok akan makan apa, di mana, dan bahkan mungkin tak punya sesuatu untuk dimakan.

Lelaki paruh baya itu memutuskan untuk tidur sebagai cara menghibur dirinya guna melupakan rasa lapar. Duhai Sobat, pernahkah Anda lapar? Seberapa hebat rasa lapar itu saat kita tak punya makanan untuk disantap?

Dari Kebun Raya ke Empang Raya

Malam itu tak banyak pemulung atau gelandangan yang kami jumpai–setidak-tidaknya dibandingkan Jumat pekan sebelumnya. Kami berdoa agar ketiadaan mereka saat itu adalah lantaran mereka telah mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan tidak kehujanan di tempat lain. Feris dan Ray bergantian membagikan nasi bungkus yang tersisa. Dari Surken hingga ke lampu merah Empang.

“Belum,” jawab seorang bapak yang terbangun. Istrinya ikut bangun dan duduk menemani sang suami. Lokasinya di emperan ruko baru di kawasan Empang sebelum lampu merah. Dari tempat mereka ada pula seorang pemulung, masih muda, tertidur tanpa suara. Sepertinya tidur adalah teknik paling efektif untuk melawan rasa lapar bagi mereka. Tiga amunisi pun berpindah tangan.

Pasangan suami istri itu tak henti mengucapkan terima kasih. Menurut penuturan mereka, biasanya mereka bermalam di sekitar Kebun Raya Bogor, lalu pindah ke emperan toko atau ruko ketika hujan turun. Lega rasanya 17 amunisi sukses terdistribusi malam itu.

Mengakhiri malam itu, teringat ucapan Kanaz pada Bernas sebelumnya. “Kalau lihat kayak gini kita jadi merasa kaya ya Pak?” Saya mengangguk. Semoga kita bisa terus bersyukur salah satunya dengan cara berbagi nasi.

Sumber : https://belalangcerewet.com/2015/11/21/berbagi-nasi-bogor-jilid-x/

Zing! Bernas Bogor 16 September

SUDAH SEBULAN sejak kami ngider nasi tanggal 17 Agustus silam, tepat di hari orang-orang akan merayakan Proklamasi dalam upacara bendera. Berkali-kali menyepakati hari untuk kembali menyisir Bogor dan berbagi nasi, sayang sekali jadwal dan kesibukan masing-masing belum ketemu di satu titik kompromi.

Jumat 16 September 2016 menandai kembalinya Bogor Sawargi, entah sudah yang kali keberapa. Meskipun sudah sebulan absen, malam kemarin perlu dicatat sebagai momen istimewa. Paling tidak menurut saya–dengan beberapa alasan sebagai berikut.

Empat Alasan

Pertama, jarang sekali saya terlibat ngider menjelang tanggal 15 pada kalender Qomariah. Mungkin suatu hari sudah pernah, namun tidak saya catat. Namun tadi malam berbeda. Saat menunggu nasi dibungkus, mata langsung tertancap pada wajah rembulan yang cukup benderang meskipun Bogor diliputi mendung tipis. Saya refleks membuka ponsel dan kata demi kata meluncur menjadi puisi seperti yang tersaji di bawah. Saya tak peduli apakah itu puisi atau tidak, tapi saya bersyukur dan bergembira bisa menulis puisi lagi–sebagai klangenan masa lalu–melalui momentum Bernas tadi malam.

Kedua, saya membawa wingko sebagai camilan sembari menunggu kawan-kawan berkumpul di depan Mesra. Kendati jumlah relawan atau pejuang nasi tidak sesuai daftar presensi sebelumnya, namun wingko tetap menyemarakkan suasana setidaknya bagi para pejuang yang hadir. Boleh dong sesekali promosi produk sendiri, hehe. (Ya bolehlah, ini juga kan blog saya sendiri :D)

Ketiga, ada dua rekan baru bergabung dalam acara ngider tadi malam. Mereka jauh-jauh bergerak dari Dramaga karena keduanya entitas Kampus IPB. Ridho dan Hafidh, selamat datang! Ridho masih berstatus mahasiswa sedangkan Hafidh kini tercatat sebagai dosen aktif di Fakultas Pertanian setelah menamatkan kuliah pascasarjana atau S2. Meskipun berprofesi sebagai dosen, Hafidh yang masih muda ini tidak canggung mengikuti arahan tukang wingko seperti saya, haha.

Total ada enam orang tadi malam. Bersama Kak Yuni, Sandi, Bagus, malam itu semua orang menyatu dalam satu bahasa: Bogor Sawargi atau Bogor berbagi lewat sebungkus nasi sebagai amunisi. Bila Sobat pembaca belum pernah merasakan perihnya kelaparan dan penasaran mengapa saya tertarik ikut kegiatan Bernas, silakan baca tulisan saya di sini.

Keempat, pada kesempatan ini kami menempuh rute berbeda. Biasanya kami menyusuri dua jalur utama, yakni (1) sepanjang Terminal Baranangsiang – Otista – Suryakencana – Lawang Gintung – Pahlawan – Empang dan berakhir di BTM; dan jalur (2) Juanda – Paledang – Jembatan Merah – PGB – Jl. Merdeka. Saat hujan, normalnya lebih banyak para pemulung atau gelandangan yang berteduh di emperan ruko sepanjang jalur kedua. Maka kami putuskan membawa 71 amunisi untuk menyisir satu jalur saja. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kami kerap kekurangan amunisi saat melewati jalur kedua sehingga harus membeli nasi bungkus lagi.

Ubah Arah

Ternyata prediksi kami meleset. Gerimis rintik-rintik tidak menjamin kami menemukan banyak target. Walhasil, hingga tuntas melewati Jl. Merdeka, amunisi masih tersisa banyak. Koordinasi bersama tim satu yakni Sandi dan Kak Yuni cukup sulit karena mereka berada dalam mobil sementara saya, Ridho, Hafidh, dan Bagus menggunakan roda dua alias pedati motor. Sesekali kami bertelepon dengan mencari tempat berteduh guna melindungi ponsel kami yang belum tahan air.

Akhirnya sepakat untuk kembali ke Jl. Pahlawan lanjut Suryakencana. Karena wilayah Kebun Raya Bogor mengikuti kebijakan satu arah, maka demi menghindari putar balik yang cukup jauh ke Tugu Kujang, kami pun banting arah ke Gunung Batu – Pasirkuda – Empang. Pilihan kami produktif. Beberapa sasaran terlihat di sepanjang jalanan ini.

This slideshow requires JavaScript.

Di pertigaan lampu merah, saya berbelok sendiri ke arah BTM yang biasanya menjadi tempat istirahat pemulung atau orang gila. Saya gembira karena amunisi yang saya bawa akhirnya berpindah tangan di jalur ini. Tersisa satu–namun dengan risiko saya kehilangan kontak dengan Sandi Cs dan Ridho Cs. Semakin malam hujan rupanya semakin deras–yang tidak memungkinkan kami untuk sering-sering membuka ponsel.

Singkat cerita, Ridho Cs sudah tiba di Lippo Plaza Bogor (dahulu Plasa Ekalokasari) Sukasari sementara Sandi dan Kak Yuni berada di Surken dalam perjalanan menyusul Ridho Cs. Saya tertahan di dekat SPBU Bondongan. Sempat tergoda untuk balik pulang, saya kemudian belok ke Gang Aut dengan maksud menjumpai Sandi. Ternyata nihil. Gelap dan dingin makin menyergap. Saya pacu kendaraan ke Sukasari, berbelok ke Jl. Pajajaran dan bertemu pemulung tak jauh dari Bank Muamalat. Amunisi terakhir berpindah tangan.

Karena amunisi tandas, saya meluncur kembali ke titik kumpul di Mesra. Sambil menunggu Ridho Cs tiba, saya lanjutkan menulis puisi. Sementara itu, Sandi dan Kak Yuni telah jauh hingga Tanah Baru mengingat amunisi yang mereka bawa masih cukup banyak. Setelah bertemu dengan Ridho CS dan berbagi wingko, kami berpisah. Hujan sepertinya berformalin karena awet hingga pukul 10 lewat bahkan sampai saya tiba di rumah.

Zing! – Energi

Saya gembira bukan main karena mendapat suntikan bahan untuk dituliskan sesuai tema pancingan harian dari WordPress. Zing, ini kata yang penting dari kegiatan kami malam itu. Dalam bahasa Inggris zing berarti energi, antusiasme, dan kegembiraan yang hidup. Seperti malam-malam Bernas sebelumnya, saya selalu mendapat asupan energi setelah melihat betapa beruntungnya saya dibanding orang lain. Saat udara begitu dingin, hujan menyirami Bumi, toko-toko tutup, orang-orang bergegas tidur atau menikmati waktu bersama keluarga sambil nonton TV–ada orang-orang yang menggigil di emperan toko atau warung-warung tenda pinggir jalan sambil menahan perut perih karena lapar.

Itulah makna penting yang berusaha saya hirup setiap kali tuntas ngider nasi. Bahwa untuk mendapatkan sebungkus nasi, mereka mesti memunguti benda-benda yang sudah kita anggap sampah tapi masih berharga untuk mereka. Bahwa untuk mempertahankan anak-anak mereka di sekolah, mereka harus berjaga kadang sepanjang malam untuk menjemput rezeki dengan menyisir jalanan. Energi semacam ini sangatlah berkualitas karena mampu menstimulasi kegembiraan lain bagi saya. Kegembiraan yang hidup dan menghidupi semangat.

Zing! – Cubitan Sayang

Sebagai kata kerja, zing juga punya makna khusus yaitu menghina atau mengkritik seseorang dengan cara yang tajam tetapi cerdas. Saya menganggap kegiatan bernas ini seperti cubitan lembut yang mengingatkan saya agar tidak banyak mengeluh karena hal-hal yang belum tercapai. Semacam cubitan sayang yang diam-diam membuat mata terbelalak untuk menyaksikan banyak nikmat yang sudah saya peroleh dan oleh karena itu tak perlu menunggu harta menumpuk untuk turut berbagi–sekalipun lewat sebungkus nasi.

Akhirnya, inilah deretan kata-kata yang saya anggap puisi itu. Selamat menikmati.

Rembulan Tanggal Empat Belas

Tanggal empat belas
Rembulan tak bisa dihentikan
Kecuali oleh rindu tak terucapkan
oleh langkah-langkah kaki
dari balik sepi
Tak ada yang mendengar jeritan lapar
Ketika rembulan mekar. Sinarnya tumpah pada daun-daun yang gemetar

Tanggal empat belas
Rasa kantuk tak boleh tuntas
Meski rumput-rumput sudah terbakar
Oleh deru mesin yang menggerogoti dirimu
Meski malam akan digulung
Oleh segenap mimpi paling brutal
Sebab mulut-mulut masih menganga. Menanti hujan dalam kebisuan

Rembulan tanggal empat belas
Berbicara padamu dengan bahasa yang lugas
Tapi kau terlalu cerdas untuk tak memahami rahasia sebutir beras
Tanggal empat belas
Rembulan akhirnya lunas
Didekap langit yang muram
Maka titik-titik air yang menghempas
Perlu kita sambut sebagai tamu sejarah
Yang menghapus jarak antara kenangan dan airmata
Yang membasuh nurani pada sebongkah memori yang berdebu. yang berliku

Note: Setiap kali menuliskan pengalaman ngider nasi, selalu ada risiko bahwa tulisan itu akan dianggap pamer atau ujub belaka. Tak apa, setiap cerita tentang bernas semata-mata bertujuan mengabarkan kegiatan kecil kami dengan harapan lebih banyak orang mengikuti langkah ini, baik melalui bernas di kota masing-masing maupun ngider secara mandiri.

Sumber : https://belalangcerewet.com/2016/09/17/zing-bernas-bogor-16-september/

Mengapa Berbagi Nasi?

Mengapa Berbagi Nasi?

Hari Jumat 6 November akhirnya saya bisa bergabung bersama para pejuang nasi Bogor. Ya betul, pejuang nasi. Mereka adalah himpunan orang yang sepakat bertemu setiap Jumat malam dua pekan sekali untuk selanjutnya menyisir beberapa rute kota Bogor dengan tujuan tertentu. Misinya sangat mulia: membagikan sebungkus nasi plus air minum untuk para gelandangan, pemulung dan mereka yang didera kelaparan namun tak sanggup membeli makanan.

Barangkali sobat pembaca sudah akrab dengan gerakan Berbagi Nasi atau disingkat Bernas yang memang sudah merambah banyak kota di tanah air. Saya pribadi tertarik berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan berbagai alasan (akan saya jelaskan nanti). Kebetulan Mbak Anazkia — blogger kondang itu — (selanjutnya saya sebut Kanaz) juga turut dalam program ini. Maka saya jadi enjoy sebab sudah ada yang kenal.

Kumpul di Mesra

Meeting point atau titik kumpulnya sudah saya kenal: depan Masjid Al-Mikraj atau yang akrab dikenal Mesra atau Masjid Raya di seberang ADA Swalayan dan Toko Buku Gramedia Padjadjaran. Menjelang pukul 20.00 saya sudah siap di tempat dengan menenteng amunisi. Amunisi adalah sebutan khas nasi bungkus yang akan dibagikan. Saya pantau di grup WA Bernas Bogor masih sepi. Lalu satu dua orang berdatangan. Saya belum nimbrung, sambil mengamati kalau-kalau Kanaz sudah masuk radar. Rupanya dia dan Novi masih otw dari stasiun dan langsung memesan nasi di depan BTM.

Saya segera bergabung dengan para pejuang nasi yang sungguh membuat saya terkejut. Mereka masih belia dan bolehlah disebut ABG. Mungkin ada satu dua yang sudah bekerja, namun partisipan malam itu didominasi anak-anak SMA yang belakangan saya ketahui kebanyakan adalah siswa aktif maupun alumnus SMAKBO. Bahkan Fahmi, pejuang nasi yang baru sekali ikut, sempat menginterogasi saya saat berkenalan, “Mas anak SMAKBO juga?” Tadinya mau ngangguk, tapi kumis dan jenggot susah berbohong, hehe.

Tak ada ungkapan lain selain rasa salut kepada para pejuang muda ini. Di tengah hingar-bingar kota yang megah, ketika teman-teman mereka asyik kongko-kongko di kafe dan haha-hihi enggak jelas, mereka mau meluangkan waktu, tenaga, dan rupiah untuk bertemu saya terlibat dalam kegiatan yang sangat positif. Sikap peduli di usia belia semoga akan mengantarkan mereka pada kesuksesan dan keberkahan hidup.

Surken ke Empang

Pukul 21.08 (versi hape saya) kami pun bergerak. Pasukan dibagi menjadi tiga tim untuk menjelajah tiga rute, dan saya kebagian Jalan Suryakencana (Surken) bersama Sandi, Selvi dan Firman. Kami meluncur ke BTM untuk menjemput Kanaz dan Novi yang sudah standby di sana dengan amunisi lengkap. Total malam itu ada 71 nasi bungkus. Setelah semua siap, kami langsung menyisir jalanan Surken. Satu dua target mulai kami identifikasi. Sandi dan Novi sigap menghampiri dan menyerahkan nasi bungkus.

Saya melihat tiga orang penerima. Satu wanita dan dua lelaki. Si wanita terlihat tertidur sementara dua lelaki terjaga, di mana salah satunya tampak sebagai tunanetra. Saat menerima nasi itu, sang bapak tunanetra terlihat gembira dan segera membangunkan istrinya yang terlelap di sebelah kanannya. Sang istri tergeragap dan menjumpai Novi sudah ada di depannya. Dia pun menyambut gembira nasi yang diserahkan. Hiks, terharu 😦

(Bapak tunanetra dan istrinya – Dok. Bernas Bogor)

Malam yang Berkesan

Begitulah, malam itu adalah pengalaman saya ikut berbagi nasi bersama para pejuang yang ternyata masih unyu-unyu. Usia muda nyatanya tak menghalangi mereka untuk sudah peduli pada sesama. Kami menyusuri Jl. Surken dan berakhir di Empang. Saya berjumpa dan bercakap langsung dengan para penerima. Ada orang gila, ada bapak yang tak punya rumah dengan penghasilan tak tentu dari memulung – biasanya 15.000/hari. Dan masih banyak cerita yang dijamin tidak akan kita saksikan dalam sinetron yang tidak layak tonton itu.

Pukul 10 sekian menit pembagian nasi pun rampung. Semua pejuang nasi bergerak ke Lapangan Sempur untuk rapat evaluasi. Karena saya masih ada urusan, saya pun pamit tanpa ikut evaluasi. Sungguh pengalaman berharga dan mengesankan bagi saya. Tadinya saya bermaksud mengajak Rumi mengingat besoknya dia libur TK. Lantaran dia tidak tidur siang, jadilah saya meluncur sendiri.

Mungkin ada yang berkomentar apatis, “Ngapain bagiin nasi segala? Bukannya itu malah bikin malas aja si penerima?!” Atau komentar lain yang lebih idealis, “Daripada berbagi nasi, kenapa tidak menciptakan peluang usaha agar mereka mandiri dan bla bla bla….” Komentar ini ada benarnya dan tidak salah. Untuk merespons komentar seperti itu, ada baiknya saya tuliskan alasan kenapa tertarik ikut berbagi nasi sebagai berikut. Ini sekaligus menjawab pertanyaan Kanaz dan Fahmi.

Dirindukan Surga

Ustaz Edi pernah menyampaikan, empat golongan yang dirindukan surga adalah: orang yang membaca Qur’an, orang yang menjaga lisan, orang yang berpuasa di bulan Ramadan, dan orang yang memberi makan orang kelaparan. Redaksi hadis ini menggunakan kata ‘dirindukan’ atau kalimat pasif, yang artinya surga sudah menanti-nanti dan mau menerima empat golongan tersebut. Ibarat orang kena razia polisi, tentu asyik bila kita dinyatakan lolos tanpa inspeksi, “Anda langsung saja. Lanjut…ga perlu diperiksa,” begitu ujar Ustaz Edi memberi perumpamaan. Sebagai seorang muslim, saya tentu ingin masuk surga. Siapa tahu tindakan sederhana ini bisa mengantarkan ke sana.

Ekspresi Syukur

Berbagi nasi adalah cara paling mudah untuk mengungkapkan rasa syukur. Saya merasa dicukupi oleh Allah, dengan kesehatan, tempat tinggal, keluarga, makanan, anak-anak dan banyak pemberian lain yang tak ternilai harganya. Berbagi nasi adalah wujud bahwa kita tidak hidup sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang ternyata jauh lebih memprihatinkan hidupnya dibanding kita. Saya yang sering merasa kurang dan kerap mengeluhkan kekurangan terpaksa menahan air mata saat menyadari bahwa saya begitu kaya. Sebab masih punya keluarga yang menyayangi, banyak teman yang peduli, dan banyak hal lain yang semakin membuat saya bersyukur.

Wujud Empati

Ini salah satu alasan kuat yang menggerakkan saya ikut berbagi nasi. Bahkan saat saya ceritakan hal ini kepada Fahmi, mata saya mendadak berkaca-kaca. Saya pernah didera rasa lapar yang menyiksa. Saat masih kuliah di Semarang, saya tak lagi punya uang. Atau ada uang sekian ratus rupiah yang cukup untuk membeli gorengan saja. Padahal tanpa nasi apalah daya. Saya berjalan dari Wonodri Raya hingga sampai di Wartel Simpang Lima untuk meminta kiriman uang. Ternyata tak ada yang bisa dikirimkan. Saya tak bisa memaksa ibu mengirimkan uang lagi. Saya tahan rasa lapar.

Malu jika harus berutang pada teman kuliah atau teman kos yang sudah pernah mengutangi saya. Saya meringkuk di kasur tipis di kamar kos. Membayangkan kelezatan makanan teman-teman yang uang sakunya selalu melimpah. Inilah salah satu titik nadir yang membuat saya menangis bila mengingatnya. Pikiran saya kala itu hanyalah mengisi perut dengan nasi. Makan, titik. Maka saat sekarang saya punya rezeki lebih, saya ingin menyumbang nasi untuk mereka yang lapar namun tak sanggup membelinya atau tak kuasa meminta pertolongan kepada orang lain.

Kontrol sosial

Alasan keempat ini mungkin terdengar terlalu idealis. Mana mungkin sebungkus nasi bisa jadi alat kontrol sosial? Pemikiran saya sederhana. Coba renungkan cerita berikut. Ada seorang pemulung, sebut saja namanya A. Kebetulan hari itu usaha A nihil. Atau dapat uang tetapi sangat sedikit. Sementara A dan keluarganya harus makan hari itu juga. Terakhir kali melihat nasi adalah kemarin, misalnya. Lantas demi mendapatkan uang untuk makan, A gelap mata dan menjambret seseorang. Yang ada dalam pikirannya adalah anak-anaknya harus makan. Titik. Hari itu saja, tidak muluk-muluk. Sebab esok dia optimis bisa memulung dan menghasilkan. Memang tidak semua orang lapar berniat buruk demikian. Namun ingat, lapar itu radikal, Saudara-saudara! Jika Anda pernah merasakan kelaparan yang sangat dan tak ada jaminan bisa makan, Anda tahu apa yang maksud.

Nah setelah menerima nasi, barangkali niatan buruk itu terkikis dan sirna. Sehingga tindakan buruk penjambretan tidak terjadi. Ketertiban sosial pun terjaga. Dari pengalaman kemarin, bila ada satu keluarga, mereka akan mendapatkan nasi sesuai jumlah orang. Bahkan dalam kasus tertentu, saat amunisi sudah habis sementara jumlah orang masih belum terpenuhi, pejuang nasi tak segan membeli nasi lagi agar semua bisa merasakan.

Ingin turut berbagi?

Nah, bagi sobat pembaca yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan Bernas, silakan berbagi sesuai kemampuan. Jika mampu, sediakan nasi bungkus plus minum minimal satu porsi lalu bergabunglah dengan para pejuang di kota yang Anda minati. Bila punya uang tapi tak punya waktu, silakan mentransfer donasi ke rekening yang disedikan. Kalau tak sanggup menyumbang amunisi, boleh menyumbangkan tenaga dengan membantu pendistribusian nasi bungkus. Bila tak ada dana atau tenaga, silakan bantu menyebarkan kegiatan ini lewat media sosial yang Anda kuasai. Bila tak bisa menyebarkan informasi ini, silakan inbox saya, nanti saya beliin pulsa, hihihi. Lagian masak semua ga bisa sih. Hari gene kan tinggal klik, copy, share, enter…beres dah! 😀

Terima kasih sudah membaca. Salam bernas!

Sumber : https://belalangcerewet.com/2015/11/10/mengapa-berbagi-nasi/

Para Pejuang Nasi Berharap Berakhir

Para Pejuang Nasi Berharap Berakhir

Jakarta – Suara Ekonomi.

Sebagai makhluk hidup sudah sewajarnya kita memberikan dan membutuhkan bantuan kepada sesama makhluk hidup lainnya. Dari hal besar sampai hal sekecil apapun akan sangat berarti bagi siapapun yang membutuhkan. Untuk melakukannya pun tidaklah sulit siapapun, kapanpun dan dimanapun yang kita berikan dapat berguna bagi sesama. Memberikan kebaikan tidak melihat soal uang, fisik, mental, dan dalam bentuk lainnya. Seperti kegiatan yang dilakukan oleh gerakan sosial berbagi nasi.

Berbagi nasi adalah gerakan sosial yang bergerak untuk memberikan nasi bungkus beserta lauk pauk sehari-hari kepada sesama yang nasibnya kurang beruntung. Berdirinya berbagi nasi ini berasal dari Bandung pada tahun 2012 dan di selenggarakan oleh beberapa pemuda. Diantaranya Danang, Abu Marlo, dan Nayaka Untara berawal dari keisengan saat sedang berkumpul salah seorang memberikan ide untuk memberikan nasi kepada homeless dan orang yang kurang beruntung. Akhirnya, kegiatan ini terus menjadi kebiasaan yang rutin dilakukan setiap malam minggu dan menjadi kegiatan positif yang awalnya sekedar berkumpul. Selain di Bandung, terdapat 50 kota di Indonesia yang aktif melakukan kegiatan ini seperti Bekasi, Depok, Batam, Kudus, Jakarta dan kota-kota lainnya.

Sebelum kegiatan membagikan nasi

Di Jakarta sendiri gerakan sosial ini sudah mulai melakukan kegiatannya pada Desember 2012, yang berpusat di Rawamangun, Jakarta Timur. Kegiatan positif ini rutin dilakukan setiap minggunya yaitu Jakarta Pusat pada hari Kamis, Jakarta timur, Utara dan selatan dilaksanakan pada hari Jum’at dan Jakarta Barat setiap malam minggu. Saat ini berbagi nasi di Jakarta memiliki kurang lebih 200 para pejuang nasi sebutan untuk anggota. Biasanya mereka memberikan nasi bungkus kepada homeless, pemulung, dan para pekerja di jalanan. Tidak hanya berbagi nasi saja, gerakan sosial yang sudah berumur 4 tahun ini juga sering memberikan pakaian layak pakai, obat-obatan, alas tidur, dan melakukan kegiatan sunatan massal untuk 100 orang yang tidak mampu.

Kegiatan berbagi nasi ini juga punya keunikan tersendiri contohnya yang pernah mereka jalankan yaitu hari valentine. Biasanya mereka memberi coklat atau bunga ke pasangan, tetapi pada valentine ini mereka mengganti nama gerakannya dengan hari nasi sayang. Dalam kegiatan ini mereka membagikan nasi sebanyak 1400 nasi sesuai tanggal dan semua nasi tersebut habis di satu tempat yaitu Jakarta pusat saja.
Gerakan berbagi nasi ini tidak berjalan pada bulan ramadhan, karena sudah banyak yang memberikan nasi tetapi mereka tetap meminta, alhasil banyak sekali nasi yang terbuang karena para homeless memilih makanan yang menurut mereka enak dan sisanya dibuang. Dari situlah mereka off saat bulan puasa. Mereka lebih memilih untuk ke panti asuhan atau panti jompo untuk makan bersama dan juga memberikan pakaian atau barang yang masih layak kepada mereka.
Kegiatan ini membuka peluang sebesar-besarnya untuk para calon pejuang nasi yang ingin ikut bergabung secara sukarela. Para calon pejuang nasi hanya perlu datang untuk membantu dan jika mampu datang membawa nasi. Ketika berada pada saat kesusahan dan tidak punya apa-apa pasti siapapun merasakan kesulitan. Itulah alasan salah satu anggota aktif Jarwo (27) untuk bergabung, meski bekerja di salah satu perusahaan swasta ia tetap bersemangat menceritakan setiap kegiatan yang dia lakukan bersama para pejuang nasi lainnya.

Para anggota berbagi nasi di Jakarta Timur

Harapan para pejuang berbagi nasi ini sebenarnya diluar dugaan yaitu mereka ingin kegiatan ini segera berakhir atau bubar, karena mereka ingin tidak ada lagi orang-orang yang kelaparan di luar sana. “Kita sering berbicara ini yang terpenting adalah kita harus memutus rantai kemiskinan dari mereka, jadi banyak anak mereka yang tidak sekolah karena membantu orang tua mereka seperti memulung dan orang tua itu sendiri pun monomer 2 kan sekolah karena mereka berfikir untuk makan sehari-hari saja susah apalagi menyekolahkan anak,” ujar jarwo.

Ketika ditanya mengapa menolong orang lain dengan memberi nasi. Walaupun nasi bahan paling mudah yang kita temui sehari-hari tapi tidak dengan mereka yang sangat membutuhkan nasi “Meski terlihat sepele memberikan makanan yang sehari-hari kita makan, ternyata sangat berharga bagi mereka. Karena tidak semua masyarakat Indonesia, khususnya warga Jakarta dapat makan dengan baik yaitu 3 kali sehari. Karena nasi paling mudah untuk dapat kita bantu dan merupakan kebutuhan vital yang tidak bisa di tunda.” ujar laki-laki kelahiran tegal. Bagi siapapun yang ingin menyumbangkan rezekinya melalui berbagi nasi dapat menghubungi mereka di belakang Rabbani Rawamangun, Jakarta Timur. Sedikit dari kita berarti untuk mereka, begitu bunyi jargon gerakan berbagi nasi ini.

Reporter : Sergian Dio Wepta dan Winda Maharani

Editor : Theresia Somasiga F. D.

Sumber : http://www.suaraekonomi.com/para-pejuang-nasi-berharap-berakhir/

Nasifoursary Berbaginasi Pontianak

Nasifoursary Berbaginasi Pontianak

Pontianak memiliki 4 serangkaian acara di hari jadinya yang ke 4 ini. yang pertama malam keakraban bersama target kemudian dilanjutkan esok harinya malam berbaginasi kemudian dilanjutkan lagi di hari minggunya donor darah yang bekerja sama dengan komunitas darah segar dan di support langsung oleh PMI kote pontianak.

Dan acara terakhir yaitu berbagi sembako di salah satu panti asuhan yang berada di pinggiran kota pontianak.

Mohon doanya ya, serta bimbingan dari teman2 nusantara di hari jadinya berbaginasi pontianak yang ke-4 ini

Nasifoursary Berbaginasi Semarang

Selamat Pagi para pejuang nasi nusantara, sedulur Semarang dan sekitarnya, Berbagi Nasi Semarang akan merayakan syukuran Nasiversary kita yang ke 4, bertempat di Panti asuhan cacat ganda Al-Rifdah Jalan Taman tlogomulyo semarang
Bagi yang ingin ikut bergabung dalam acara ini bisa menghubungi :

Shemi : 081327579297 (WA / Line)
Untuk transfer donasi bisa ditransfer melalui

Bank BNI 0409614123 a.n. Hashemi Esa Praditya

Hari Nasi Sayang Berbaginasi Salatiga

Hari Nasi Sayang Berbaginasi Salatiga

@Regrann from @berbaginasisltg – Mereka juga memiliki kehidupan

Jadi mengapa harus diabaikan ?

Mereka juga makhluk Tuhan yang diciptakan dengan tujuan

Jadi mengapa harus dicemoohkan?Mereka juga sama di berikan kehidupan

Jadi apa yang mesti kita dustakan ?

Hanya dengan hati yang penuh cinta

Dapat menumbuhkan rasa kasih dan sayang

Hanya dengan hati yang ikhlas

Dapat menumbuhkan rasa simpati sesama

Dan dengan hati yang ceria

Dapat menghadirkan kesukaan

Menghapuskan duka memilu

Berbagi suka akan lebih Indah

Tiada duka terlihat

Tiada tangis yang muncul

Semua Indah ketika perbedaan tenggelam atas kebersamaan

Ketika semua tertawa

Apa yang membuat kita merasa terganggu

Bahkan merasakan juga sebagian kebahagiaan itu

Berawal dari berbagi suka

Hingga waktunya suka itu membagikan kebahagiaannya.

INFO LEBIH LANJUT : CP DEWI 082328093009 / WA .

#HariNasiSayang #BerbagiNasi #BerbagiNasiSltg #BerbagiKasih #BukanBagiHati #ApalagiSamaKamuDanDia #Regrann