Gerakan Berbagi 1000 Matras 5 Tahun Berbaginasi

Gerakan Berbagi 1000 Matras 5 Tahun Berbaginasi


Berbagi Satu Nusantara Foundation dan Berbaginasi Nusantara mempersembahkan:
#berbagimatras #1000matras
adalah membagikan alas tidur berupa matras yg diprioritaskan utk Ibu, anak dan jompo yg tidur beralaskan bumi beratapkan langit agar mereka tdk lg tidur beralaskan koran, plastik ataupun kardus utk menghindari resiko mereka hipotermia & bronchitis.
Matras ini dijual seharga Rp.85.000,- (sdh tmsk ongkir ke kota tujuan) 

Contoh: 

1) saya mau donasi #berbagimatras ke Jakarta sebanyak 1 buah, maka donasi yg harus ditransfer Rp. 85.102,-

2) saya mau donasi #berbagimatras ke Bekasi sebanyak 2 buah, maka donasi yg harus ditransfer Rp.170.105,- 
Donasi pembelian #berbagimatras ini melalui a/n Rek. Yayasan Berbagi Satu Nusantara (Mandiri) 132-00-2014111-6
Contact Person: 

Danang 082115510033

Meri +6281315735668

www.Berbaginasi.com
Program #berbagimatras ini diadakan dlm rangka 5 tahun berbaginasi.com November 2017.
Pembagian #berbagimatras #1000matras akan dilakukan serempak di bulan Desember 2017. Donasi dibuka sampai tgl 30 November 2017. 
KODE KOTA:

101 – Bandung @berbaginasiID

102 – Jakarta @berbaginasiJKT

103 – Bogor @berbaginasibogor

104 – Depok @berbaginasiDPK

105 – Bekasi @berbaginasiBKZ 

106 – Batam @berbaginasiBTM

107 – Kudus – 

@berbaginasikudus

108 – Magelang @berbaginasimagelang

109 – Kediri @berbaginasi_kediri

110 – Makasar @berbaginasiMKS

111 – Blitar @berbaginasi_blitar

112 – Singkawang @berbaginasi_skw

113 – Palopo @berbaginasipalopo

114 – Semarang 

115 – Mojokerto @berbaginasimjkt

116 – Serang @berbaginasisrg 

117 – Solo

118 – Garut @berbaginasi_GRT

119 – Tasikmalaya @berbaginasitasikmalaya

120 – Pontianak @Berbaginasi_Ptk

121 – Kendari

122 – Jogja

123 – Malang

124 – TulungAgung @berbaginasi_ta_official

125 – Tanggerang selatan @berbaginasitangsel

126 – Majalengka @berbaginasi_mjlk

127 – Jombang 

128 – Salatiga @berbaginasisltg

129 – Bali

130 – Subang @berbaginasiSBG

131 – Sidoarjo

132 – Cikarang

133 – Pekalongan 

134 – Lampung

135 – Gresik

136 – Ketapang

137 – Majenang

138 – Sumedang @berbaginasi_sumedang

139 – Banyuwangi 

140 – Nganjuk 

141 – Jember

142 – bengkulu

143 – Jambi

144 – Surabaya 

145 – Tegal @berbaginasikotategal

146 – Pesawaran 

147 – Pringsewu -@berbaginasipringsewu 

148 – Binjai

149 – Tolitoli

150- kendal
Info lebih lanjut:

Cek IG/Twitter @berbaginasiID

www.berbaginasi.com

Danang 082115510033

Meri +6281315735668

Nasi4sary BerbaginasiDPK at Desa Mulyasari 29-30 April 2017

Nasi4sary BerbaginasiDPK at Desa Mulyasari 29-30 April 2017

Proklanasi, Cara Kami Mengenang Proklamasi

Proklanasi, Cara Kami Mengenang Proklamasi

Rabu, 17 Agustus 2016, menjadi momen istimewa bagi siapa pun yang mengaku cinta Indonesia. Tidak terkecuali kami, keluarga besar Bernas Bogor yang pagi itu akan ngider berbagi nasi di titik-titik yang sudah kami sepakati. Kami memang tidak ikut upcara bendera, tapi itu tentu tidak lantas mengurangi kecintaan pada tanah air. Pada kadar tertentu, kami justru tengah berusaha membumikan nilai kemerdekaan yang tertuang dalam naskah Proklamasi.

Mengenang Proklamasi

Ya, inilah cara kami mengenang Proklamasi. Kami tidak merayakan, tetapi mengenangnya. Setiap kata dan kalimat dalam naskah penting itu kami renungkan dalam-dalam dan berusaha menerjemahkannya menjadi kenyataan. Tentu saja sesuai kemampuan kami yang terbatas. Mari simak bunyi naskah Proklamasi berikut ini.

P R O K L A M A S I
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.

Pagi itu kami berusaha mengejawantahkan makna kemerdekaan untuk warga sekitar sebagai sesama bangsa Indonesia. Yaitu kemerdekaan dari rasa lapar atau mengganjal perut mereka untuk sementara waktu. Pernyataan ini mungkin terdengar kelewat bombastis mengingat kami hanya mengangkut 130 amunisi (nasi bungkus) dengan lauk seadanya dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sarapan saja. Namun seperti yang pernah saya tulis di sini dan di sini, sebungkus nasi ternyata sangat penting bagi kehidupan seseorang bahkan dalam menjaga stabilitas sosial.

Jadiuntuk mewujudkan kemerdekaan dari rasa lapar itu, kami pun memindahkan seratus sekian amunisi yang ada dalam kekuasaan kami. Nasi bungkus itu memang bukan berasal dari satu orang saja, melainkan hasil kolaborasi banyak orang, baik para pejuang nasi sendiri maupun para donatur yang baik hati. Begitu dana terkumpul, kami pun segera mengeksekusi dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk bisa dibagi kepada mereka yang kami anggap layak menerima.

Cara Sederhana di Puluhan Kota

Dari Kota Hujan inilah kami ikut menyemarakkan ulang tahun Indonesia dengan cara yang sederhana. Acara ini dihelat serentak di berbagai kota seperti terlihat dalam gambar di atas. Ada kota yang menggelar Bernas di malam hari tanggal 16 atau tanggal 17 pagi. Nah, ini kali pertama saya bergabung dengan Bernas Bogor di waktu pagi. Biasanya kami ngider setiap Jumat malam dua kali dalam sebulan.

Kesempatan ini juga menjadi semacam reuni setelah saya beberapa kali absen karena kesibukan dan gangguan kesehatan–terlebih bagi Bumi yang baru saja pulih dari sakit yang lumayan. Baik Rumi maupun Bumi sangat girang bergabung dalam Bernas untuk kali kedua meskipun mereka akhirnya tertahan di depan Mesjid Raya (Mesra) lantaran belum sarapan pagi sehingga tak bisa ikut berkeliling.

Saat tiba di depan Mesra, saya cukup risau lantaran tak melihat seorang pun sobat muda pejuang nasi. Pagi itu Mesra memang dipenuhi jemaah calon haji beserta rombongan pengantar. Jalanan sesak oleh bus dan mobil pribadi. Saya khawatir teman-teman Bernas telah bergerak membagikan nasi sementara saya membawa cukup banyak amunisi (kebanyakan dari titipan donasi) yang tak mungkin saya bagikan sendiri.

Rupanya mereka beringsut ke samping Halte Bus TransPakuan yang berada tepat di depan Hotel Amaris. Komposisi sudah lengkap sesuai daftar presensi di grup WA. Sudah ada Kak Yuni, Jeni, Sandi, Intan, Ken, Rania, Ichwan. Tingggal Indah yang masih berburu amunisi. Tak berapa lama, Indah pun muncul bersama tamu istimewa. Luar biasa, Bernas pagi itu turut dihadiri mamah Indah yang membuat saya jadi lebih muda, haha. Oh ya, satu lagi, Ican, jadilah 10 orang sehingga total 11 personel termasuk saya.

Menyisir Surken dan Merdeka

Kami segera berbagi amunisi dan membagi kelompok yang akan menyisir dua wilayah berbeda. Sebagian meluncur ke Suryakencana (Surken) sedangkan sisanya menyusuri Jembatan Merah hingga Jl. Merdeka, tak jauh dari Stasiun Bogor. Sempat ada miskomunikasi di mana amunisi terbawa cukup banyak di mobil yang harusnya berputar ke Surken. Akhirnya jalanan Surken tidak tuntas kami jelajahi. Walhasil, seluruh tim bergerak ke lokasi kedua dengan melewati Paledang.

Cukup banyak penerima nasi di jalanan ini. Tukang becak dan pemulung mendominasi. Satu per satu nasi bungkus berpindah tangan kepada mereka. Tangan-tangan renta menerimanya dengan senyum apa adanya. Sebagian langsung disantap, ada pula yang disimpan untuk makan siang. Bagi pemulung yang punya keluarga, kami lebihkan sesuai jumlah anggotanya.

Merdeka dari Rasa Lapar

Saya dan Sandi memacu kendaraan hingga sampai di pertigaan Rutan Paledang. Di bawah jembatan penyeberangan, tepatnya di emperan pos jaga polisi, terlihat seorang anak tertidur pulas. Bahkan saat Sandi membangunkan dia, tak tampak dia terganggu oleh kehadiran kami. Setelah membuka mata dan menerima nasi, anak ini segera memejamkan mata kembali. Mungkin semalam begadang. Atau seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, dia memang sudah terbiasa tidur untuk melupakan rasa lapar yang mendera.

Saya abadikan foto anak ini bersama Sandi dan saya pasang sebagai pembuka tulisan ini. Betapa miris, anak sekecil itu harus bergelut dalam kerasnya hidup di jalan. Tidak menentu dan penuh perjuangan. Andaikan dia terjaga, saya hendak mengobrol tentang siapa dia dan kenapa bisa tertidur pulas di situ tanpa perbekalan apa pun. Merah putih harus terus berkibar dengan catatan semua orang Indonesia, terutama anak-anak, harus terbebas dari rasa lapar. Bukankah ironis bila di mana-mana ada pesta dan perayaan enuh makanan sementara di sudut-sudut kota lain ada orang yang menggelepar karena lapar?

Pilihan kami untuk bersatu di Jembatan Merah – Merdeka rupanya sangat produktif. Terbukti 130 bungkus amunisi ludes di area ini. Hingga area PGB (Pusat Grosir Bogor) masih kami temui tukang becak dan pemulung. Karena kapasitasnya yang lapang, mobil yang dikendarai Ken bersama Intan membawa sisa amunisi untuk dibagikan di Jl. Merdeka. Mobil diparkir di depan Toko Buku 88 lalu mereka berjalan kaki menyambangi orang-orang di emperan toko pagi itu.

Habis Ngider, Terbitlah Laper

Sesekali kami yang menunggu di atas motor turut memindahkan amunisi kepada pemulung yang lewat atau tukang becak yang meluncur ke arah stasiun. Amunisi di motor semakin menipis, hanya satu-dua yang tersisa. Hingga semua amunisi tuntas, maka kami bergabung lagi di depan Toko 88 (jadi iklan nih, haha…). Tim sepakat untuk sarapan bersama di Gang Selot yang terkenal dengan aneka jajanan enak itu. Lokasinya tak jauh dari SMP 1 Bogor.

 

Karena saya harus menjemput anak-anak yang sedang makan di depan Mesra, saya pamit untuk absen. Sesampai di Mesra, ternyata istri belum makan. Jadilah kami meluncur ke lokasi kuliner tadi untuk bergabung dengan para pejuang yang sudah standby di sana. Baru kali pertama menyambangi daerah Selot dan memang sangat ramai oleh anak-anak sekolah. Kedai makanan berderet di sepanjang gang itu, menawarkan aneka makanan maupun camilan. Karena sedang puasa, saya cuma bisa membayangkan kelezatan mi hijau yang pagi itu disantap Rumi. Hiks 😦

Setelah tandas, satu per satu mohon diri. Kami sekeluarga pulang belakangan karena datangnya telat. Anak-anak begitu gembira menikmati pengalaman hari itu meskipun tak ikut ngider seperti Bernas malam-malam yang pernah mereka ikuti. Matahari semakin tinggi dan kami segera beranjak pulang. Hari itu sangat memuaskan, so fulfilling, so full of meaning. Begitu menggembirakan.

Tamparan Bagi Kami Berdua    

Namun esok paginya, saat Kanop mengirim kabar duka berikut ini, saya dan istri tak sanggup menahan air mata. Para pejuang nasi Kudus mendapati seorang kakek tua yang sakit dan tergolek tak berdaya di emperan sebuah pertokoan. Tak punya rumah. Tidur di atas ubin dengan alas sederhana, mungkin merana. Rekan Bernas Kudus langsung mengontak SR atau Sedekah Rombongan yang kemudian mengangkut si kakek ke rumah sakit terdekat.

Kejadian itu berlangsung tanggal 16 Agustus malam. Esok harinya, si kakek dikabarkan telah meninggal dunia. Innalillaahi wainna ilai raajiuun. Saya sangat memuji tindakan rekan bernas terutama tim SR yang begitu sigap membantu walaupun Allah menakdirkan hal lain. Semoga orang-orang baik seperti mereka diperbanyak jumlahnya di negeri ini dan dimudahkan hidupnya oleh Tuhan.

IMG-20160818-WA0001.jpg

Pecahlah tangis kami saat mendengar kejadian ini. Betapa kami kerap mengeluh karena belum berhasil mencapai hal ini dan itu. Belum punya barang ini dan itu. Padahal setiap hujan tak pernah kehujanan, pun tak pernah kepanasan. Bisa makan setiap hari, mandi dengan air bersih, punya akses pada fasilitas kesehatan dan pendidikan, banyak teman, dan berbagai nikmat lain yang kami lupakan. Betapa kerdilnya hati kami yang terus dan terus menginginkan kenikmatan padahal ada yang jauh lebih menderita dan butuh uluran tangan?

Tapi ya begitulah. Penyesalan hanya datang saat ada kejadian. Nanti bila tiada lagi pemandangan seperti ini, akan kembalilah kami kepada ego dan semangat impulsif untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri–sebanyak-banyaknya. Semoga tidak, semoga tidak.

Dari Kota-kota untuk Nusantara

Selain apresiasi tinggi kepada SR, penghargaan juga layak kami sampaikan kepada rekan-rekan Bernas kota lain yang bergerak membagikan nasi tanggal 17 Agustus kemarin. Pagi atau malam, semangatnya tak pernah padam. Berdasarkan data yang masuk, berikut adalah jumlah amunisi yang telah dibagikan di seluruh Nusantara.

  1. Magelang 193
  2. Surabaya 171
  3. Kudus 160
  4. Bengkulu 56
  5. Makassar 150
  6. Batam 50
  7. Lampung dan Pringsewu 171
  8. Singkawang 17
  9. Jakarta 160
  10. Bekasi 139
  11. Pontianak 119
  12. Semarang 95
  13. Solo 56
  14. Salatiga 100
  15. Mojokerto 71
  16. Jombang 60
  17. Cikarang 205
  18. Bandung 180
  19. Jogja 106
  20. Tulungagung 168
  21. Tasikmalaya 25
  22. Depok 50
  23. Bogor 130

Total 2.632 bungkus telah didistribusikan di kota-kota yang berpartisipasi. Terima kasih kepada para pejuang nasi wabilkhusus kepada para donatur yang bersedia menitipkan dana kepada kami. Himpunan foto berikut akan memperjelas aktivitas Agustusan beberapa hari lalu. Inilah Proklanasi, cara kami mengingat kembali apa yang ditegaskan dalam naskah Proklamasi. Dirgahayu RI ke-71!

Here is a collection of places you can buy bitcoin online right now.

Berbagi Nasi Bogor Jilid X

Berbagi Nasi Bogor Jilid X

Tanggal 13 November saya gembira sekali bisa kembali berpartisipasi dalam Bernas (Berbagi Nasi) Bogor yang memasuki jilid ke-10 bila tak salah. Jika Jumat malam sebelumnya cuaca Bogor cerah, kali ini sejak sore Bogor disirami hujan yang cukup lebat dan kontinu.

Badan agak meriang, namun ingin ikut bergabung bersama para pejuang nasi. Sejak siang grup WA Bernas Bogor sudah ramai tentang siapa yang bisa dan tak bisa turun ke jalan. Rupanya Jumat itu banyak rekan yang berhalangan, entah karena pekerjaan atau kesibukan lain.

Tak apa, namanya juga kegiatan sukarela, jadi tak ada paksaan atau ikatan apa pun. Dan justru inilah asyiknya, siapa pun bisa bergabung kapan saja saat yang lain berhalangan. Kesuksesan kegiatan bukan ditentukan oleh jumlah personel yang terjun atau amunisi yang dibagikan, melainkan pada intensitas hati yang tersentuh dan terbantu.

The Three Musketeers

Pukul 8 lewat saya sudah tiba di Mesra. Karena belum ada yang datang, saya segera membungkus amunisi satu per satu — menyatukan sebungkus nasi dengan air mineral atau teh tawar. Ada 10 amunisi yang siap dibagikan, termasuk donasi yang disampaikan lewat Novi admin Bernas Bogor.

Tak lama kemudian Renaldi (Ray) muncul. Ray adalah anak SMAKBO yang tengah magang di Jakarta. Keluarganya tinggal di Jakarta sementara dia indekos di Bogor dekat sekolahnya. “Asyik aja Pak, kegiatan begini sambil menambah rezeki.” Begitu jawabnya saat saya kulik mengapa tertarik ikut Bernas padahal di malam dingin itu enaknya bergumul dengan kemul. Salut!

Berdasarkan pantauan di WA, Fuad akan menemani kami malam itu. Dia bertolak dari Depok sehingga kami harus sabar menanti. Saat asyik mengobrol, Novi mengirim pesan bahwa ada donasi masuk lagi. Saya segera meluncur ke Jl. Ciheuleut untuk membeli beberapa amunisi tambahan. Saya tinggalkan Ray untuk menjaga amunisi yang sebelumnya saya bawa.

“Pak, saya balik ke kos ya, cari helm,” ujarnya lewat pesan di WA. Saya masih di warung nasi Padang. Kembali ke halaman Mesra, Ray belum terlihat. Tak lama berselang muncullah Feris dengan membonceng Ray sambil membawa 3 amunisi. Total amunisi malam itu sebanyak 17 bungkus.

Ketiduran dan kemalaman

Hingga pukul 10 malam Fuad belum juga menampakkan diri. Betapa kaget mendengar kabar dari Ray bahwa Fuad ternyata ketiduran. Olala, pantesan lama. Fuad meminta maaf dan minta ditinggal saja. Kami bertiga pun langsung tancap gas ke Jl. Surken. Malam itu sepanjang Jl. Otista hingga Surken sudah sangat ramai. Para penjual sayuran dan buah tumpah ruah ke badan jalan. Walhasil, kami pun bergerak merambat meskipun berkendara motor.

“Ini gara-gara nunggu Fuad nih jadi kejebak penjual!” gumam saya geli hehe. Padahal ketemu Fuad pun belum pernah. Jalanan becek dan basah selepas hujan deras yang mendera. Tak apa kemalaman dengan jumlah amunisi seadanya. Yang penting malam itu ada yang terbantu terisi perutnya. Begitu tekad kami.

Terhibur dengan tertidur

“Maaf, Pak. Saya ganggu tidurnya.” Lelaki paruh baya itu tergeragap dan memandang saya, agak terkejut.

“Ya?” jawabnya singkat.

“Bapak sudah makan?” saya tanya balik.

“Sudah, tadi siang.” Kali ini dia sudah terduduk tak jauh dari kantong plastik besar berisi barang-barang pulungannya.

“Silakan, Pak. Ini ada nasi. Maaf ya ganggu.” Nasi bungkus diterima. Saya menoleh ke sebelah: ada lelaki lain di emperan toko itu. Sebungkus lagi saya serahkan. Saya langsung pamit dan bergabung dengan Ray dan Feris yang sedari tadi mengamati dari seberang jalan. Tanpa menunggu kami beranjak pergi, kedua lelaki tua itu langsung membuka nasi dan menyantapnya. Lapar.

Lamat-lamat ucapan terima kasih masih bergaung dalam memori. Ya Allah, berarti bapak itu berencana tidak makan malam karena makan terakhir adalah makan siang tadi. Betapa beruntung saya yang masih bisa makan tiga kali sehari, atau mungkin lebih, dengan jaminan kemampuan hingga sebulan ke depan. Sementara mereka tak tahu esok akan makan apa, di mana, dan bahkan mungkin tak punya sesuatu untuk dimakan.

Lelaki paruh baya itu memutuskan untuk tidur sebagai cara menghibur dirinya guna melupakan rasa lapar. Duhai Sobat, pernahkah Anda lapar? Seberapa hebat rasa lapar itu saat kita tak punya makanan untuk disantap?

Dari Kebun Raya ke Empang Raya

Malam itu tak banyak pemulung atau gelandangan yang kami jumpai–setidak-tidaknya dibandingkan Jumat pekan sebelumnya. Kami berdoa agar ketiadaan mereka saat itu adalah lantaran mereka telah mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan tidak kehujanan di tempat lain. Feris dan Ray bergantian membagikan nasi bungkus yang tersisa. Dari Surken hingga ke lampu merah Empang.

“Belum,” jawab seorang bapak yang terbangun. Istrinya ikut bangun dan duduk menemani sang suami. Lokasinya di emperan ruko baru di kawasan Empang sebelum lampu merah. Dari tempat mereka ada pula seorang pemulung, masih muda, tertidur tanpa suara. Sepertinya tidur adalah teknik paling efektif untuk melawan rasa lapar bagi mereka. Tiga amunisi pun berpindah tangan.

Pasangan suami istri itu tak henti mengucapkan terima kasih. Menurut penuturan mereka, biasanya mereka bermalam di sekitar Kebun Raya Bogor, lalu pindah ke emperan toko atau ruko ketika hujan turun. Lega rasanya 17 amunisi sukses terdistribusi malam itu.

Mengakhiri malam itu, teringat ucapan Kanaz pada Bernas sebelumnya. “Kalau lihat kayak gini kita jadi merasa kaya ya Pak?” Saya mengangguk. Semoga kita bisa terus bersyukur salah satunya dengan cara berbagi nasi.

Sumber : https://belalangcerewet.com/2015/11/21/berbagi-nasi-bogor-jilid-x/

Berbagi Edukasi di Desa Mulyasari – Nasi4sary Berbaginasi Depok

Berbagi Edukasi di Desa Mulyasari – Nasi4sary Berbaginasi Depok

Halo Guys … 💪🏾
Dalam Rangkaian Acara Ulang Tahun Berbagi Nasi yang ke 4, kami akan mengadakan acara dan kegiatan #berbagiedukasi.
📝 KEGIATAN
*Berbagi peralatan mandi
*Belajar mengajar
*Video edukasi
*Games
🏢 Kampung Mulyasari, Kab. Bogor
📆 29-30 April 2017
🕛 06.00 am- Selesai

💵 DONASI
Rp. 150.000- untuk donasi kegiatan mengajar Di desa mulyasari
* Buat yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan #berbagiedukasi bisa langsung transfer ke rekening kas kami

💳 BNI 0488-3954-02 a/n Desi Permata S

🌼 Karena kebahagian itu bukan untuk diri sendiri. ☺😁
🎆 Berbagi Edukasi, Berbagi Semangat dan Inspirasimu
🙏 Terimakasih atas partisipasinya
#berbagitakpernahrugi#berbagidarihati #berbagiedukasi

🔖 Info kegiatan :
@berbaginasiDPK

📱Hubungi
– Nadia (0813-1579-3318)
– Hanif (0856-4711-8248)
– Dhani (0899-9106-794)

👥 Kalian juga bisa terlibat langsung kok dalam kegiatan ini
*Yuk ramein ! Yuk Berbagi ! Yuk jadi Volunteer! #berbagiedukasi bersama @berbaginasiDPK

Nasifoursary Berbaginasi Pontianak

Nasifoursary Berbaginasi Pontianak

Pontianak memiliki 4 serangkaian acara di hari jadinya yang ke 4 ini. yang pertama malam keakraban bersama target kemudian dilanjutkan esok harinya malam berbaginasi kemudian dilanjutkan lagi di hari minggunya donor darah yang bekerja sama dengan komunitas darah segar dan di support langsung oleh PMI kote pontianak.

Dan acara terakhir yaitu berbagi sembako di salah satu panti asuhan yang berada di pinggiran kota pontianak.

Mohon doanya ya, serta bimbingan dari teman2 nusantara di hari jadinya berbaginasi pontianak yang ke-4 ini

Nasifoursary Berbaginasi Semarang

Selamat Pagi para pejuang nasi nusantara, sedulur Semarang dan sekitarnya, Berbagi Nasi Semarang akan merayakan syukuran Nasiversary kita yang ke 4, bertempat di Panti asuhan cacat ganda Al-Rifdah Jalan Taman tlogomulyo semarang
Bagi yang ingin ikut bergabung dalam acara ini bisa menghubungi :

Shemi : 081327579297 (WA / Line)
Untuk transfer donasi bisa ditransfer melalui

Bank BNI 0409614123 a.n. Hashemi Esa Praditya

Hari Nasi Sayang Berbaginasi Salatiga

Hari Nasi Sayang Berbaginasi Salatiga

@Regrann from @berbaginasisltg – Mereka juga memiliki kehidupan

Jadi mengapa harus diabaikan ?

Mereka juga makhluk Tuhan yang diciptakan dengan tujuan

Jadi mengapa harus dicemoohkan?Mereka juga sama di berikan kehidupan

Jadi apa yang mesti kita dustakan ?

Hanya dengan hati yang penuh cinta

Dapat menumbuhkan rasa kasih dan sayang

Hanya dengan hati yang ikhlas

Dapat menumbuhkan rasa simpati sesama

Dan dengan hati yang ceria

Dapat menghadirkan kesukaan

Menghapuskan duka memilu

Berbagi suka akan lebih Indah

Tiada duka terlihat

Tiada tangis yang muncul

Semua Indah ketika perbedaan tenggelam atas kebersamaan

Ketika semua tertawa

Apa yang membuat kita merasa terganggu

Bahkan merasakan juga sebagian kebahagiaan itu

Berawal dari berbagi suka

Hingga waktunya suka itu membagikan kebahagiaannya.

INFO LEBIH LANJUT : CP DEWI 082328093009 / WA .

#HariNasiSayang #BerbagiNasi #BerbagiNasiSltg #BerbagiKasih #BukanBagiHati #ApalagiSamaKamuDanDia #Regrann