Obati Gelandangan hingga Bantu Buatkan Rumah

[pictures]

Komunitas Berbagi Nasi Salatiga tak hanya membagikan nasi kepada warga tak mampu yang hidup di jalanan. Namun komunitas sosial regional Salatiga ini juga pernah membuatkan rumah warga duafa. Seperti apa?

FIRAS DALIL

KOMUNITAS Berbagi Nasi Salatiga merupakan cabang komunitas serupa di tingkat nasional. Sesuai dengan namanya, komunitas ini memfokuskan kegiatan mereka pada kegiatan berbagi makanan berupa nasi bungkus bagi warga tak mampu yang hidup di jalanan.

”Kami berbagi nasi bungkus untuk area Salatiga, terutama bagi para homeless atau yang nggak punya tempat tinggal sama pekerja malam, seperti pemulung dan tukang becak,” jelas Achsin, salah satu anggota Komunitas Berbagi Nasi Salatiga kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bagi anggota komunitas ini, kata Achsin, membagikan nasi bungkus merupakan cara untuk mendekatkan diri pada orang- orang yang menghabiskan kehidupannya di jalanan. ”Sebenarnya nasi ini kita pakai sebagai perantara untuk dapat kenal lebih dekat dengan mereka. Setelah kita kenalan, kita ngobrol, kita tanya, kenapa dia tidur di jalan? Kok nggak tidur di rumah,” beber Achsin.

Sehingga tak jarang, di luar memberikan sebungkus nasi, anggota komunitas ini pernah sampai mengantar pulang seseorang yang telah lama hidup di jalanan, berikut membangunkan rumah di kampung halamannya.

Achsin menjelaskan, Komunitas Berbagi Nasi Regional Salatiga dibentuk sejak 2014 lalu, tepatnya pada 12 Desember. Achsin sendiri baru setahun bergabung di komunitas sosial ini. ”Awalnya diajak teman. Kebetulan saya juga pernah hidup susah,” katanya.

Di komunitas ini, Achsin mengaku merasa senang karena bisa berbagi untuk orang yang membutuhkan. Saat ini, Komunitas Berbagi Nasi Salatiga memiliki lebih dari 30 anggota aktif. Mereka biasa melakukan aksi bagi-bagi nasi pada Sabtu malam (malam Minggu, Red). Biasanya anggota komunitas ini lebih dulu berkumpul mulai pukul 21.00 di Alun-Alun Pancasila Salatiga.

Achsin punya pengalaman saat bertemu dengan Mbah Sukiyem yang hidup menggelandang di jalanan Kota Salatiga. Sehari-hari, Mbah Sukiyem tidur di Pasar Salatiga. Saat anggota komunitas ini datang, nenek renta itu tampak sedang sakit. Achsin dan teman-temannya lantas mencarikan obat.

”Setelah diobati, kita lalu tanya asal-usulnya. Dia mengaku sudah tidak punya keluarga, dan berasal dari Getasan, Kabupaten Semarang. Kita lantas menghubungi pihak kecamatan setempat. Alhamdulillah mendapat respons. Dua hari kemudian, si mbah langsung dijemput tetangganya yang mengaku kenal, lalu dibuatkan rumah di desanya,” papar Achsin, yang mengaku ikut membantu membuat rumah bagi Mbah Sukiyem bersama anggota komunitas lainnya.

Pengalaman lainnya, Achsin dan teman-temannya pernah menemui seseorang yang sejak lahir hidup di jalanan. Ada juga tukang becak yang sejak kecil sampai tua hidupnya di atas becak. ”Dari kecil beliau tidak punya keluarga. Keluarganya sudah meninggal semua. Terus beliau hidupnya makan dan tidur di atas becak. Beliau punya penyakit liver, kami sendiri belum dapat membantu banyak. Kami pernah minta bantuan dari Dinas Sosial, namun dinas meminta agar dibuatkan BPJS, sementara beliau ini dari kecil tidak punya KTP,” ceritanya.

Ditanya sumber dana setiap kegiatan komunitas ini, Achsin menjelaskan biasanya dana berasal dari swadaya anggota dan sumbangan dari donatur. ”Kami biasa patungan untuk membeli nasi bungkus,” katanya.

Setiap kali beraksi, Achsin dan teman-temannya membagikan 30-50 nasi bungkus. Nasi bungkus ini biasa mereka namai ”amunisi”, yang dibagikan oleh para anggota yang dijuluki ”pejuang nasi”.

Achsin dan teman-temannya mengaku kerap menemui kendala dalam membantu para warga jalanan ini. Misalnya, mereka yang sakit, tak bisa dibantu untuk dirawat secara gratis di rumah sakit lantaran terbentur tidak memiliki KTP. Padahal KTP merupakan syarat utama membuat kartu BPJS Kesehatan.

Selain itu, kendala lain yang kerap dihadapi adalah rata-rata orang-orang jalanan enggan dipindahkan ke Dinas Sosial. Padahal anggota komunitas ini bermaksud mengentaskan mereka dari jalanan, menuju ke kehidupan yang lebih baik. ”Kita mengusahakan supaya tidak ada lagi yang tidur di jalan, tapi kebanyakan mereka tidak mau dipindah. Maunya tetap di jalanan, karena katanya kalau dipindah ke Dinas Soial, mereka merasa kesepian,” katanya.

Ke depan, Komunitas Berbagi Nasi Salatiga ini berharap aksinya akan terus berkelanjutan. Sehingga bisa membantu lebih banyak lagi dalam mengentaskan orang-orang jalanan. ”Selain menolong orang-orang di jalanan, kami juga aktif bakti sosial di panti asuhan berupa penyaluran sembako, makanan, dan kebutuhan mereka,” ujarnya. (*/aro/ce1)

Sumber : http://radarsemarang.jawapos.com/read/2017/01/12/3285/obati-gelandangan-hingga-bantu-buatkan-rumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *